Rangkuman Materi 7 Modul Pedagogik P3K Guru Kemdikbud

Kompetensi Pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya dan akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran peserta didiknya.

MODUL 1 : TEORI BELAJAR

TEORI BEHAVIORISTIK

1. Menjelaskan teori belajar behavioristik
a. Belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antar stimulus dan respon.
b. Mengutamakan hasil belajar ditunjukan dengan perubahan tingkah laku
c. Peserta didik pasif, lebih aktif guru
d. Tingkah laku dikendalikan oleh reward dan reinforcement

2. Tokohnya: Schunk, Ertmer dan Newby, Robert, Thorndike, Skinner
a. Schunk, 1986
Memandang invidividu sebagai mahluk reaktif.

b. Ertmer dan Newby, 1993
Manusia mesin (homo mechanicus)

c. Robert, 2014
Belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antar stimulus dan respon.

d. Thorndike
Stimulus dan Respon

e. Skinner
Teaching machine dan operant conditioning

3. Ciri teori behavioristik :
a. Mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil.
b. Bersifat mekanistis
c. Mementingkan pembentukan reaksi atau respon
d. Menekankan peranan lingkungan
e. Menekankan pentingnya latihan
f. Mementingkan mekanisme hasil belajar
g. Mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah perilaku yang diinginkan.

4. Menerapkan implikasi teori belajar behavioristik dalam pembelajaran
a. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.

b. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar. Maksudnya, bila peserta didik menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan tugas belajarnya.



TEORI KOGNITIF

1. Menjelaskan teori belajar kognitif

a. Lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya.

b. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.

Tokohnya: Jean Piaget, Jerome Bruner, David Ausubel (pembelajaran bermakna)

2. Menurut Piaget, proses belajar terdiri dari 3 tahap,
1) Asimilasi adalah proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada.
2) Akomodasi adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.
3) Equilibrasi adalah penyesuaian kesinambungan antara asimilasi dan akomodasi

3. Perkembangan kognitif menurut piaget

1) Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)
 Berdasarkan tindakan
 Langkah demi langkah

2) Tahap praoperasional (umur 2-7/8 tahun)
 Penggunaan symbol/Bahasa tanda
 Konsep intiutif

3) Tahap operasional konkret (umur 7/8 - 11/12 tahun)
 Pakai aturan jelas/logis
 Revesibel dan kekekalan

4) Tahap operasional formal (umur 11/12 - 18 tahun)
 Hipotesis
 Abstract
 Deduktif dan induktif
 Logis dan probalitas

4. Perkembangan kognitif menurut Bruner

1) Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

2) Tahap ikonik, seseorang memahami obyek-obyek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).

3) Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak sistem simbol.

5. Menerapkan implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran

a. Kebebasan dan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi peserta didik.

b. Adanya perbedaan individual pada diri peserta didik perlu diperhatikan misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya

TEORI KONTRUKTIVISTIK

1. Menjelaskan teori belajar konstruktivistik;
a. Peserta didik harus aktif selama kegiatan pembelajaran, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar peserta didik itu sendiri

b. Guru tugasnya membimbing
Tokohnya: Driver dan Oldhan, Vygotsky

Ciri-ciri belajar konstruktivisme yang dikemukakan oleh Driver dan Oldhan

1) Orientasi, yaitu peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik dengan memberi kesempatan melakukan observasi.

2) Elitasi, yaitu peserta didik mengungkapkan idenya dengan jalan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain.

3) Restrukturisasi ide, yaitu klarifikasi ide dengan ide orang lain, membangun ide baru, mengevaluasi ide baru.

4) Penggunaan ide baru dalam setiap situasi, yaitu ide atau pengetahuan yang telah terbentuk perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi.

5) Review, yaitu dalam mengapliasikan pengetahuan, gagasan yang ada perlu direvisi dengan menambahkan atau mengubah

Teori belajar Vygotsky ini meliputi tiga konsep utama, yaitu
1) hukum genetik tentang perkembangan,
2) Zona perkembangan proksimal
3) mediasi.

2. Menerapkan implikasi teori belajar konstruktivistik dalam pembelajaran

a. Berkembangnya pembelajaran dengan web (web learning) dan pembelajaran melalui social media (social media learning).

b. Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian- bagian dan lebih mendekatkan kepada konsep-konsep yang lebih luas.

c. Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide peserta didik.

d. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber- sumber data primer dan manipulasi bahan.

e. Peserta didik dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.


TEORI HUMANISTIK

1. Menjelaskan teori belajar humanistik

 Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri.

 Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal

 Mengembangkan potensi siswa kognitif, afektif, psikomotor

Tokohnya: David A. Kolb, Peter Honey dan Alan Mumford, Jurgen Hubermas, Benjamin Samuel Bloom dan David Krathwohl

2. Kolb membagikan tahapan belajar menjadi empat tahap

1) Pengalaman konkrit, pada tahap ini peristiwa belajar adalah seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaima adanya. Akan tetapi ia hanya mengalami kejadian tersebut, tanpa mengerti kenapa dan bagaimana suatu kejadian harus terjadi seperti itu.

2) Pengamatan aktif dan reflektif, bahwa seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya. Ia mulai berusaha mencari jawaban dari kejadian tersebut dan memahami kejadian tersebut, dengan mengembangkan pertanyaan pertanyaan bagaimana hal itu bisa terjadi.

3) Konseptualisasi, peristiwa belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi obyek perhatiannya. Pada tahap ini, diharapkan peserta didik mampu membuat peraturan-peraturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun berbeda-beda tetapi mempunyai landasan yang sama.

4) Eksperimen aktif, peristiwa belajar adalah melakukan eksperimentasi secara aktif.


Honey dan Mumford menggolongkan peserta didik atas empat tipe

1) Peserta didik tipe aktivis, yaitu peserta didik yang cenderung melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dengan berbagai kegiatan, dengan tujuan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Tipe ini, cenderung berpikiran terbuka, suka berdiskusi, mudah diajak berdialog, menghargai pendapat orang lain. Mereka menyukai metode-metode pembelajaran yang mampu mendorong menemukan hal-hal baru, seperti problem solving dan brainstorming.

2) Peserta didik tipe reflektor, tipe ini cenderung berhati hati mengambil langkah dan penuh pertimbangan. Dalam mengambil keputusan cenderung konservatif, maksudnya mereka sangat mempertimbangkan baik-buruk dan untung rugi, selalu diperhitungkan dengan cermat dalam memtuskan sesuatu.

3) Peserta didik tipe teoris, tipe ini biasanya sangat kritis, suka menganalisis, selalu berfikir rasional menggunakan penalarannya. Segala pendapat pendapat harus berlandaskan dengan teori sehingga. Mereka tidak menyukai penilaian yang bersifat subyektif. Dalam melakukan atau memutuskan sesuatu, kelompok teoris penuh dengan pertimbangan, sangat skeptis dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.

4) Peserta didik tipe pragmatis, tipe ini menaruh perhatian besar terhadap aspek-aspek praktis dalam segala hal, mereka tidak suka bertele-tele dalam membahas aspek toeritis-filosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktikkan.

Hubermas membagi tiga macam tipe belajar :
1) Technical learning (belajar teknis)
Peserta didik belajar berinteraksi dengan alam alam sekelilingnya. Pengetahuan dan ketrampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik. oleh sebab itu, ilmu-ilmu alam atau sains amat dipentingkan dalam belajar teknis.

2) Practical elarning (belajar praktis)
Belajar praktis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang di sekelilingnya dengan baik. kegiatan belajar ini lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antar sesama manusia. Untuk itu bidang-bidang ilmu yang berhubungan dengan sosiologi, komunikasi, psikologi, antrophologi, dan semacamnya, amat diperlukan. mereka percaya bahwa pemahaman dan ketrampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat dipisahkan dengan kepentingan manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, interaksi yang benar antara individu dengan lingkungan alamnya hanya akan tampak dari kaitan atau relevansinya dengan kepentingan manusia.

3) Emancpatory learning (belajar emansipatori)
Belajar emansipatoris menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya. Dengan pengertian demikian maka dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar untuk mendukung terjadinya transformasi kultural tersebut. Untuk itu, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan budaya dan bahasa amat diperlukan. Pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural inilah yang oleh Habermas dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang paling tinggi..

Taksonomi bloom membagi menjadi 3 bagian yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor

a. Menerapkan implikasi teori belajar humanistik dalam pembelajaran.

 Pada penerapan teori humanistic ini adalah hal yang sangat baik bila guru dapat membuat hubungan yang kuat dengan peserta didik dan membantu peserta didik untuk membantu peserta didik berkembang secara bebas.

 Dalam proses pembelajaran, guru dapat menawarkan berbagai sumber belajar kepada peserta didik, seperti situs-situs web yang mendukung pembelajaran. Inti dari pembelajaran humanistic adalah bagaimana memanusiakan peserta didik dan membuat proses pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik.

 Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan peserta didik untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar.


MODUL 2 : KARAKTER PESERTA DIDIK
1. Menjelaskan pengertian karakteristik peserta didik.

 Karakteristik peserta didik adalah keseluruhan pola kelakukan atau kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan, sehingga menentukan aktivitasnya dalam mencapai cita-cita atau tujuannya.

2. Menjelaskan ragam/macam-macam karakteritik peserta didik.

Ragam karakteristik peserta didik:

a. Etnik (suku bangsa)
Pendidik dalam melakukan proses pembelajaran perlu memperhatikan jenis etnik apa saja yang terdapat dalam kelasnya.

b. Kultural (budaya)
Budaya yang ada di masyarakat kita sangatlah beragam, seperti kesenian, kepercayaan, norma, kebiasaan, dan adat istiadat. Peserta didik yang kita hadapi mungkin berasal dari berbagai daerah yang tentunya memiliki budaya yang berbeda-beda sehingga kelas yang kita hadapi kelas yang multikultural.

c. Status sosial
Dilihat dari latar belakang pekerjaan orang tua, di kelas kita terdapat peserta didik yang orang tuanya wirausahawan, pegawai negeri, pedagang, petani, dan juga mungkin menjadi buruh. Dilihat dari sisi jabatan orang tua, ada peserta didik yang orang tuanya menjadi pejabat seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, kepala desa, kepala kantor atau kepala perusahaan, dan Ketua RT. Disamping itu ada peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi mampu, ada yang berasal dari keluarga yang cukup mampu, dan ada juga peserta didik yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.

d. Minat
Minat dapat diartikan suatu rasa lebih suka, rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas

e. Perkembangan kognitif
Tingkat perkembangan kognitif yang dimiliki peserta didik akan mempengaruhi guru dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran, metode, media, dan jenis evaluasi. (Piaget, Bruner)

f. Kemampuan awal
Cara untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dapat dilakukan melalui teknik tes yaitu pre tes atau tes awal dan teknik non tes seperti wawancara

g. Gaya belajar
1) Peserta didik visual yaitu peserta didik yang belajarnya akan mudah dan baik jika melalui visual/penglihatan.

2) Peserta didik auditori, yaitu mereka yang mempelajari sesuatu akan mudah dan sukses melalui pendengaran.

3) Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik, adalah peserta didik yang melakukan aktivitas belajarnya secara fisik dengan cara bergerak, menyentuh/meraba, dan melakukan.

h. Motivasi
Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.

Motivasi instrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam dirinya

Motivasi Esktrinsik adalah motivasi yang muncul dari luar dirinya

i. Perkembangan emosi
Emosi merupakan tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, misalnya otot menegang, dan jantung berdebar. Dengan emosi peserta didik dapat merasakan senang/gembira, aman, semangat, bahkan sebaliknya peserta didik merasakan sedih, takut, dan sejenisnya.

j. Perkembangan sosial
Perkembangan sosial peserta didik merupakan kemampuan peserta didik untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma dan tradisi yang berlaku pada kelompok atau masyarakat, kemampuan untuk saling berkomunikasi dan kerja sama.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial yaitu keluarga, kematangan, teman sebaya, sekolah, dan status sosial ekonomi

k. Perkembangan moral dan spiritual
Menurut Kohlberg

1) Tahap Preconventional (6 - 10 th),
Orientasi anak/peserta didik masih pada konsekvensi fisik dari perbuatan benar-salahnya yaitu hukuman dan kepatuhan. Pada tahap pra konvensional peserta didik memiliki rasa takut akan akibat negatif dari perbuatannya.

2) Tahap Conventional, (10 – 17 th)
Orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disepakati oleh orang lain. Peserta didik memiliki perasaan rasa bersalah bila berbeda dengan orang lain.

3) Tahap post conventional (17 – 28 th),
Orientasi orang pada legalitas kontrak sosial. Baik-buruk harus disesuaikan dengan tuntutan prinsip-prinsip etika intisari dari prinsip yang sifatnya universal atau orang menilai baik-buruk berdasarkan hati nurani.

l. Perkembangan motorik

Menurut Santrock

1) Motorik kasar
Gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Contoh perkembangan motorik kasar anak yaitu, anak pada usia 3 tahun gemar melakukan gerakan seperti melompat, berlari ke depan dan ke belakang

2) Motorik halus
Gerakan yang menggunakan otot halus, atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Perkembangan motorik halus anak usia 3 tahun misal bermain puzzle sederhana, tapi kadang tidak disangka dapat membangun menara tinggi dengan menggunakan balok.

3. Menerapkan manfaat mengenal karakteristik peserta didik sebagai pijakan dalam pembelajaran

 Peserta didik dalam suatu kelas atau sekolah memiliki karakteristik yang berbeda- beda. Perbedaan-perbedaan yang ada perlu dikelola secara baik. Namun jika perbedaan tersebut tidak dikelola secara baik, maka akan menimbulkan permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran.


MODUL 3 :  KETRAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI

1. Guru mampu menjelaskan konsep HOTS

Kompetensi tersebut yaitu berpikir kritis (criticial thinking), kreatif dan inovasi (creative and innovative), kemampuan berkomunikasi (communication skill), dan kepercayaan diri (confidence).

Pembelajaran yang berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi adalah pembelajaran yang melibatkan 3 aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi yaitu:

a. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sebagai Transfer of Knowledge
1) Ranah kognitif
Menurut taksonomi Bloom
Menurut Anderson dan Krathwoll

a) Pengetahuan Faktual
• Pengetahuan terminologi meliputi nama-nama dan simbol-simbol verbal dan nonverbal tertentu (contohnya kata-kata, angka-angka, tanda-tanda, dan gambar-gambar).

• Pengetahuan yang detail dan elemen-elemen yang spesifik mengacu pada pengetahuan peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, orang-orang, tanggal, sumber informasi, dan semacamnya.

• Pengetahuan yang didasarkan pada fakta yang ada/nyata.

b) Pengetahuan konseptual

• Pengetahuan klasifikasi dan kategori meliputi kategori, kelas, pembagian, dan penyusunan spesifik yang digunakan dalam pokok bahasan yang berbeda;

• Prinsip dan generalisasi cenderung mendominasi suatu disiplin ilmu akademis dan digunakan untuk mempelajari fenomena atau memecahkan masalah-masalah dalam disiplin ilmu; dan

• Pengetahuan teori, model, dan struktur meliputi pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi bersama dengan hubungan-hubungan di antara mereka yang menyajikan pandangan sistemis, jelas, dan bulat mengenai suatu fenomena, masalah, atau pokok bahasan yang kompleks.

c) Pengetahuan prosedural

• Pengetahuan keahlian dan algoritma spesifik suatu subjek.
• Pengetahuan teknik dan metode spesifik suatu subjek.
• Pengetahuan kriteria untuk menentukan kapan menggunakan prosedur- prosedur yang tepat.

d) Pengetahuan metakognitif
• Pengetahuan strategi.
• Pengetahuan mengenai tugas kognitif, termasuk pengetahuan kontekstual dan kondisional.
• Pengetahuan diri.
• Pengetahuan metakognitif didasarkan pada kemampuan pengetahuan awal/keahlian kemudian dikembangkan menjadi pengetahuan baru

2) Ranah afektif

3) Ranah psikomotor

b. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sebagai critical and creative thinking
Berpikir kritis merupakan proses dimana segala pengetahuan dan keterampilan dikerahkan dalam memecahkan permasalahan yang muncul, mengambil keputusan, menganalisis semua asumsi yang muncul dan melakukan investigasi atau penelitian berdasarkan data dan informasi yang telah didapatkan sehingga menghasilkan informasi atau simpulan yang diinginkan.

Berpikir kreatif dapat berupa pemikiran imajinatif, menghasilkan banyak kemungkinan solusi, berbeda, dan bersifat lateral

c. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sebagai problem solving.
Keterampilan pemecahan masalah merupakan keterampilan para ahli yang memiliki keinginan kuat untuk dapat memecahkan masalah yang muncul pada kehidupan sehari-hari.

Aspek pemecahan masalah:
• Menentukan masalah
• Mengeksplorasi masalah.
• Merencanakan solusi.
• Melaksanakan rencana.
• Memeriksa solusi.
• Mengevaluasi.

Keterampilan abad 21

2. Guru mampu merancang pembelajaran HOTS

MODUL 4 : DESAIN PEMBELAJARAN


1. Guru mampu menganalisis kompetensi dasar
a. Analisis Standar Kelulusan (SKL) dan Kompetensi Inti (KI)

Langkah Analisis SKL dan KI yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Membaca dan memahami Permendikbud Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi;

2) Melihat tuntutan yang ada pada deskripsi SKL dan KI;

3) Memperhatikan:
a) dimensi pengetahuan pada SKL dan KI;
b) komponen pengetahuan/keterampilan pada SKL dan KI;
c) tempat penerapan yang digambarkan pada SKL dan KI.
d) Melihat keterkaitan antara SKL dengan KI.
b. Analisis Kompetensi Dasar (KD)

Dasar dalam melakukan analisis adalah Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 tentang KI/KD.

2. Guru mampu menentukan target kompetensi dari setiap kompetensi dasar;

Poin-poin yang harus diperhatikan pada saat menentukan target KD:

1) Tidak mengubah deskripsi pada KD
2) Memisahkan setiap kompetensi/kata kerja yang ada pada KD
3) Memisahkan setiap materi pada KD (jika bukan satu kesatuan)
4) Memisahkan setiap proses pencapaian (jika tidak satu kesatuan)
5) Menuliskan target jika ada kata “dan/atau” menjadi target yang terpisah

Dalam analisis KD setelah guru juga harus mampu menentukan tingkat kompetensi KD (C1 s.d. C6), dengan langkah sebagai berikut,
1) Tidak berpatokan hanya pada kata kerja yang ada pada KD
2) Membaca secara keseluruhan deskripsi pada KD
3) Jika ada dua kata kerja pada KD, maka tingkat kompetensi pada KD tersebut ada dua.

3. Guru mampu menentukan IPK;
Pengembangan IPK memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Tentukanlah proses berpikir yang akan dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi minimal yang ada pada KD;
2) Rumusan IPK menggunakan kata kerja operasional (KKO) yang bisa diukur;
3) Dirumuskan dalam kalimat yang simpel, jelas, dan mudah dipahami;
4) Tidak menggunakan kata yang bermakna ganda;
5) Hanya mengandung satu tindakan;
6) Memperhatikan karakteristik mata pelajaran, potensi, dan kebutuhan peserta didik, sekolah, masyarakat, dan lingkungan/daerah.

Indikator Kunci = KKO sesuai dengan yang ada pada KD
Indikator pendukung = KKO lebih rendah daripada indikator kunci
Indikator pengayaan = KKO sama dengan indikator kunci

KKO Indikatorkunci> KKO IndikatorPendukung< KKO Indikatorpengayaan

Contoh:
KD = Siswa dapat menjelaskan ciri-ciri magnet
IndikatorKunci = Siswa dapat menjelaskan ciri-ciri magnet
Indikatorpendukung = Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri magnet
Indikatorpengayaan = Siswa dapat menganalisis ciri-ciri magnet

4. Guru mampu mengembangkan pembelajaran;
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran berdasarkan model pembelajaran:

1) Pahami KD yang sudah dianalisis;
2) Pahami IPK dan materi pembelajaran yang telah dikembangkan;
3) Pahami sintak-sintak yang ada pada model pembelajaran, rumuskan kegiatan pendahuluan yang meliputi orientasi, motivasi, dan apersepsi.
4) Rumuskan kegiatan inti yang berdasarkan pada:
• IPK;

• Karakteristik peserta didik;

• Pendekatan saintifik;

• 4C (creativity, critical thinking, communication, collaboration); dan

• PPK dan literasi.

5) Rumuskan kegiatan penutup yang meliputi kegiatan refleksi baik individual maupun kelompok.
• memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
• melakukan kegiatan tindak lanjut;
• menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya; dan
• Kegiatan penutup dapat diberikan penilaian akhir sesuai KD bersangkutan.

6) Tentukan sumber belajar berdasarkan kegiatan pembelajaran;

7) Rumusan penilaian (formatif dan sumatif) untuk pembelajaran yang mengaju kepada IPK.

5. Guru mampu mengembangkan tujuan pembelajaran.
Menggunakan prinsip ABCD
A = Audience
B = Behavior
C = Condition
D = Degree

Setelah mengamati bunga, siswa mampu mengidentifikasi perkembangbiakan generatif melalui

C A B

gambar yang dibuatnya dan manfaatnya dengan benar.

D


MODUL 5 : DASAR KOMUNIKASI

1. Menjelaskan pengertian fungsi, unsur dan proses komunikasi;
Komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.

Fungsi komunikasi:
a. Pembentukan konsep diri
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan sesamanya tidak akan memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah manusia

b. Menyatakan eksistensi diri
Dengan berkomunikasi, kita bisa dipandang oleh orang lain keberadaan kita.

c. Melangsungkan kehidupan
komunikasi melangsungkan kehidupan dan mewariskan peradaban

d. Memupuk hubungan
Melalui komunikasi kita dapat memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual kita dengan cara memupuk hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitar kita.

e. Mengekspresikan perasaan
Siswa yang sudah lulus ujian mengekspresikan kegembiraan dengan berbagai cara, seperti sujud syukur, meloncat, berteriak, atau menangis terharu.

f. Fungsi instrumental
Komunikasi berfungsi sebagai instrumen (alat) untuk menginformasikan pesan (to inform), mengajarkan ilmu (to educate), menghibur (to entertain), mempengaruhi orang lain (to influence), mengubah sikap, opini, prilaku, dan masyarakat (to change the attitude, the opinion, the behavior, and the society).

Unsur-unsur Komunikasi
a. Pengirim atau Komunikator
b. Penyandian atau encoding

proses yang dilakukan oleh komunikator untuk mengemas maksud atau pesan yang ada dalam benak dan hatinya menjadi simbol-simbol, suara, tulisan, gerak tubuh, dan bentuk lainnya untuk dapat dikirimkan kepada komunikan

c. Pesan atau Message
Maksud atau informasi yang akan disampaikan oleh komunikator melalui simbol-simbol

d. Saluran dan Media
Bagi manusia saluran komunikasi di antaranya pancaindera berupa pendengaran, penglihatan, penciuman, rabaan, dan rasa. Oleh sebab itu, manusia dapat mengirimkan pesan secara tertulis melalui surat, papan tulis, buku, faximile, dan lain-lain.

e. Penyandian Ulang atau Decoding
Proses yang dilakukan oleh komunikan untuk menginterpretasikan simbol-simbol yang diterimanya menjadi makna

f. Penerima atau Komunikan

g. Umpan Balik atau Feedback

Informasi yang kembali dari komunikan ke komunikator sebagai respon terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator

Proses Komunikasi
Model Komunikasi Lasswell
1) Who: pengirim atau komunikator atau orang yang menyampaikan pesan atau guru.
2) Says what: pesan atau materi pelajaran.
3) On what chanel: media atau alat bantu mengajar.
4) To whom: penerima atau komunikan atau siswa.
5) With what effect: dampak atau hasil komunikasi atau hasil belajar siswa.

Model Komunikasi Schramm

2. Menentukan faktor-faktor penunjang dan penghambat dalam komunikasi yang efektif;

Faktor Penunjang Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran
a. Faktor Komunikator (Guru)
b. Faktor Komunikan (Siswa)
c. Faktor Pesan (Muatan Pelajaran)

Faktor Penghambat Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran
a. Gangguan fisik.
Gangguan fisik lebih mengarah pada keadaan cuaca atau iklim yang tidak kondusif, suasana ribut, bising, tempat belajar yang tidak standar

b. Gangguan mekanik.
Gangguan ini terjadi pada alat atau media yang kita gunakan dalam berkomunikasi.

c. Gangguan Semantik.
Lambang kata yang sama akan diartikan berbeda untuk orang-orang yang berlainan.Kata “cokot” berarti “ambil” untuk orang Sunda, sedangkan untuk orang Jawa berarti “makan”.

d. Gangguan budaya.
Orang India untuk mengatakan setuju dengan cara menggelengkan kepala ke kiri-ke kanan, sedangkan orang Indonesia isyarat itu menunjukan ketidaksetujuan.

e. Gangguan kepentingan.
Komunikan hanya akan memerhatikan pesan yang dianggap ada hubungannya dengan kepentingan dia.

f. Gangguan motivasi.
komunikator akan kesulitan untuk menentukan pesan mana yang efektif untuk orang-orang yang memiliki motivasi berlainan ini.

g. Gangguan prasangka.
Prasangka merupakan suatu sikap dari sesorang yang mencurigai orang lain dengan membanding-bandingkan dirinya atau orang lain yang mengarah pada perasaan negatif

3. Menerapkan strategi komunikasi yang efektif dengan peserta didik;

Strategi komunikasi yang efektif meliputi:
a. Membangun etos guru
b. Memilih Materi (Isi Pesan) yang Sesuai
c. Menggunakan Bahasa yang Tepat
d. Membangun Iklim Komunikasi dengan Siswa

Hal yang perlu diperhatikan guru dalam membangun iklim komunikasi yang positif dengan siswa, yaitu:
a. Respect, sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan.
b. Emphaty, kemampuan menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain
c. Audible, dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik, berarti pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik oleh penerima pesan
d. Clarity, kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan
e. Humble, sikap rendah hati, tidak merasa lebih baik dari yang lain, menghargai orang lain, mau mendengar, menerima kritik, tidak sombong, dan tidak memandang rendah orang lain.

4. Melakukan komunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.

a. Komunikasi dikatakan efektif apabila pesan yang disampaikan oleh pengirim sama maknanya dengan pesan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.

b. Komunikasi empatik adalah komunikasi yang menunjukkan adanya saling pengertian antara komunikator dengan komunikan.Komunikasi empatik dapat dilakukan dengan membayangkan pikiran dan perasaan siswa menurut persepsi siswa, bukan menurut persepsi guru

c. Komunikasi santun dapat diartikan sebagai komunikasi yang dilaksanakan dengan halus, baik dan sopan baik menyangkut budi bahasa maupun tingkah laku.

MODUL 6 : KONSEP PENILAIAN

1. Guru mampu menjelaskan fungsi penilaian;

Fungsi penilaian untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam proses belajar.

Pendekatan dalam penilaian:

a. Assessment of learning merupakan penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai

Contoh: Ujian Nasional, ujian sekolah/madrasah, dan berbagai bentuk penilaian sumatif

b. Assessment for learning dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar.

Contoh: Penugasan, presentasi, proyek, termasuk kuis

c. Assessment as learning mempunyai fungsi yang mirip dengan assessment for learning, yaitu berfungsi sebagai formatif dan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Perbedaannya, assessment as learning melibatkan peserta didik secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Peserta didik diberi pengalaman untuk belajar menjadi penilai bagi dirinya sendiri.

Contoh: Penilaian diri (self assessment) dan penilaian antar teman


2. Guru mampu mengimplementasikan penilaian pada kurikulum 2013

Penilaian hasil belajar peserta didik pada kurikulum 2013 meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. KKM akan dijadikan dasar untuk menetapkan kegiatan remedial atau pengayaan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik.

KKM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek, yaitu:
a. karakteristik peserta didik (intake),
b. karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi),
c. kondisi satuan pendidikan (guru dan daya dukung) pada proses pencapaian kompetensi.

3. Guru mampu mengembangkan penilaian untuk peserta didik.

Berdasarkan Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, Lingkup penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik; penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

Penilaian hasil belajar meliputi:

a. Penilaian sikap
Teknik yang digunakan untuk menilai sikap yaitu:

1) Observasi
Teknik penilaian observasi dapat menggunakan instrumen berupa lembar observasi, atau buku jurnal (selanjutnya disebut jurnal).

2) Penilaian Diri
Penilaian diri dalam penilaian sikap merupakan teknik penilaian terhadap diri sendiri (peserta didik) dengan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan sikapnya dalam berperilaku.

3) Penilaian antar teman
Penilaian antar teman merupakan teknik penilaian yang dilakukan oleh seorang peserta didik (penilai) terhadap peserta didik yang lain terkait dengan sikap/perilaku peserta didik yang dinilai



b. Penilaian pengetahuan

Teknik penilaian pengetahuan yaitu:

1) Tes Tertulis
Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.

2) Tes Lisan
Tes lisan adalah tes yang pelaksanaannya dilakukan secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Tes lisan juga dapat menumbuhkan sikap berani berpendapat, percaya diri, dan kemampuan berkomunikasi secara efektif

3) Penugasan
Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur dan/atau memfasilitasi peserta didik memperoleh atau meningkatkan pengetahuan

c. Penilaian keterampilan

Teknik penilaian keterampilan yaitu:

1) Penilaian Praktik
Aspek yang dinilai dalam penilaian praktik adalah kualitas proses mengerjakan/melakukan suatu tugas. Contoh penilaian praktik adalah membaca karya sastra, membacakan pidato (reading loudly dalam mata pelajaran bahasa Inggris), menggunakan peralatan laboratorium sesuai keperluan, memainkan alat musik, bermain bola, bermain tenis, berenang, menyanyi, menari, dan sebagainya.

2) Penilaian Produk
Penilaian produk merupakan penilaian terhadap keterampilan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki ke dalam wujud produk dalam waktu tertentu sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan baik dari segi proses maupun hasil akhir. Contoh penilaian produk adalah membuat kerajinan, membuat karya sastra, membuat laporan percobaan, menciptakan tarian, membuat lukisan, mengaransemen musik, membuat naskah drama, dan sebagainya.

3) Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Contoh penilaian proyek adalah melakukan investigasi terhadap jenis keanekaragaman hayati Indonesia, membuat makanan dan minuman dari buah segar, membuat video percakapan, mencipta rangkaian gerak senam berirama, dan sebagainya.

4) Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan karya atau dokumen peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi, diambil selama proses pembelajaran dan digunakan oleh guru dan peserta didik untuk menilai dan memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.

Karya peserta didik yang dapat disimpan sebagai dokumen portofolio antara lain: karangan, puisi, gambar/lukisan, surat penghargaan/piagam, foto-foto prestasi, dan sejenisnya. Dokumen

MODUL 7 : PENGEMBANGAN POTENSI PESERTA DIDIK

1. Menjelaskan konsep perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik;
Manusia adalah pribadi atau individu yang utuh, tidak dapat dibagi, tidak dapat dipisahkan dan bersifat unik. Artinya manusia tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan raganya, rohaniah dan jasmaniahnya, kegiatan jiwa dalam kehidupan sehari-hari merupakan kegiatan keseluruhan jiwa raganya bukan kegiatan jiwa saja dan sebaliknya. Bersifat unik menunjukkan sifat khas yang membedakan individu tersebut dengan individu lainnya

Keragaman karakteristik dapat dilihat secara fisik, kepribadian dan perilaku seperti berbicara, bertindak, mengerjakan tugas, memecahkan masalah, dsb. Dari berbagai keragaman karakteristik peserta didik yang paling penting dipahami oleh guru adalah keragaman dalam kecakapan (ability) dan kepribadian

Karakteristik atau ciri-ciri individual adalah keseluruhan perilaku dan kemampuan individu sebagai hasil pembawaan dan lingkungan. Pembawaan yang bersifat alamiah (nature) adalah karakteristik individu yang dibawa sejak lahir (diwariskan dari keturunan), sedangkan nurture (pemeliharaan, pengasuhan) adalah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak dari masa pembuahan sampai selanjutnya.

2. Menjelaskan tahapan perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik

a. Masa kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6/7 tahun sampai 9/10 tahun.

Menurut Yusuf (2014:24) beberapa sifat anak-anak masa ini adalah sebagai berikut.
1) Ada hubungan positif yang tinggi antara kondisi jasmani dengan prestasi, misalnya bila jasmaninya sehat maka banyak mendapatkan prestasi.
2) Sikap mematuhi kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
3) Terdapat kecenderungan memuji diri sendiri (menyebut nama sendiri).
4) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain.
5) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka anak akan mengabaikannya karena soal itu dianggap tidak penting.
6) Pada masa ini (terutama 6,0 – 8,0 tahun) anak menginginkan nilai (nilai rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya pantas diberi nilai baik atau tidak.

b. Masa kelas tinggi sekolah dasar, kira-kira umur 9,0/10,0 sampai umur 12,0/13,0 tahun.

Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini adalah sebagai berikut.

1) Memiliki minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret sehingga cenderung membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.

2) Sangat realistik, ingin mengetahui, dan ingin belajar.

3) Menjelang akhir masa ini sudah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus, menurut para ahli aliran teori faktor hal ini ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor atau bakat-bakat khusus.

4) Sampai sekitar umur 11,0 tahun anak memerlukan guru atau orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Setelah ini berakhir, umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya

5) Pada masa ini, anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajar di sekolah.

6) Anak-anak pada umur ini senang membentuk kelompok sebaya umumnya agar dapat bermain bersama-sama. Umumnya anak tidak lagi terikat kepada peraturan permainan yang tradisional yang sudah ada, mereka membuat peraturan sendiri.


3. Menjelaskan prinsip-prinsip perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik dan implikasinya terhadap pendidikan;

4. Mengidentifikasi tugas-tugas perkembangan akhir masa kanak-kanak;

a. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan dan kegiatan fisik.
b. Membangun sikap hidup yang sehat.
c. Belajar bergaul dan bekerja sama dengan teman-teman seusianya.
d. Mulai belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelaminnya.
e. Mempelajari keterampilan-keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung.
f. Mengembangkan pengertian-pengertian atau konsep yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
g. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan nilai-nilai.
h. Mempelajari sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
i. Mencapai kemandirian pribadi.

5. Menjelaskan pengertian kemampuan awal peserta didik;
Kemampuan awal atau entry behavior merupakan keadaan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu oleh peserta didik sebelum mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru.

6. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik;
Cara untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dapat dilakukan melalui teknik tes yaitu pre tes atau tes awal dan teknik non tes seperti wawancara. Di samping hal tersebut di atas untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dapat dilakukan melalui analisis instruksional/pembelajaran


7. Menentukan kegiatan pembelajaran yang kondusif berdasarkan hasil identifikasi kemampuan awal peserta didik;

Contoh: Ardi seorang pendidik tingkat Sekolah Dasar, ketika akan melaksanakan proses pembelajaran topik tentang darah, diawali dengan melakukan tes awal/pre tes terlebih dahulu. Setelah peserta didik menjawab soal-soal yang diberikan akan terlihat soal-soal mana yang bisa dijawab dengan baik dan soal-soal mana yang tidak dapat dijawab dengan baik. Misalnya saja soal yang membahas golongan darah dan fungsi darah sudah dapat dijawab dengan baik, namun peserta didik belum mampu menjawab soal-soal yang berkaitan dengan komponen-komponen darah, proses peredaran darah, dan penyakit yang mempengaruhi peredaran darah. Atas dasar data ini maka Pak Ardi dalam melakukan pembelajarannya difokuskan pada komponen- komponen darah, proses peredaran darah, dan penyakit yang mempengaruhi peredaran darah, sedangkan golongan darah dan fungsi darah tidak perlu dibahas detail lagi.


8. Menjelaskan pengertian potensi;
Potensi adalah kemampuan yang masih terkandung dalam diri peserta didik yang diperoleh secara herediter (pembawaan).

9. Menjelaskan jenis-jenis potensi;
a. Potensi fisik
Potensi fisik berkaitan dengan kondisi dan kesehatan tubuh, ketahanan dan kekuatan tubuh, serta kecakapan motorik

b. Potensi psikologis
1) Potensi Kecerdasan Umum
Kecerdasan umum (general intelligence) atau kemampuan intelektual merupakan kemampuan mental umum yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi kerumitan kognitif. Kemampuan umum dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, berpikir abstrak, keahlian dalam pembelajaran

2) Kecerdasan Majemuk

a) Kecerdasan bahasa (verbal-linguistic intelligence), kecakapan berpikir melalui kata-kata, menggunakan bahasa untuk menyatakan dan memaknai arti yang kompleks (penulis, ahli bahasa, sastrawan, jurnalis, orator, penyiar adalah orang-orang yang memiliki inteligensi linguistik yang tinggi.

b) Kecerdasan matematika-logis (logical-mathematical intelligence), kecakapan untuk menyelesaikan operasi matematika (para ilmuwan, ahli matematis, akuntan, insinyur, pemrogram komputer).

c) Kecerdasan spasial–visual (visual-spatial intelligence), kecakapan berpikir dalam ruang tiga dimensi (pilot, nakhoda, astronot, pelukis, arsitek, dll.)

d) Kecerdasan kinestetis atau gerakan fisik (kinesthetic intelligence). Kecakapan melakukan gerakan dan keterampilan-kecekatan fisik (olahragawan, penari, pencipta tari, perajin profesional, dokter bedah).

e) Kecerdasan musik (musical intelligence). Kecakapan untuk menghasilkan dan menghargai musik, sensitivitas terhadap melodi, ritme, nada, tangga nada, (komposer, musisi, kritikus musik, penyanyi, pengamat musik).

f) Kecerdasan hubungan sosial (interpersonal intelligence). Kecakapan memahami dan merespon serta berinteraksi dengan orang lain secara efektif (guru, konselor, pekerja sosial, aktor, pimpinan masyarakat, politikus)

g) Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence). Kecakapan mengenali dan memahami diri serta menata diri sendiri secara efektif (agamawan, psikolog, psikiater, filsuf).

h) Kecerdasan naturalis adalah kecakapan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta (petani, ahli botani, arkeolog, antropolog, ahli ekologi, ahli tanah,atau pecinta lingkungan).

3) Bakat
Bakat merupakan kecakapan dasar atau suatu potensi yang merupakan pembawaan untuk memperoleh suatu pengetahuan atau keterampilan pada bidang tertentu

4) Kreativitas
Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, unik, baik itu berbentuk lisan, tulisan, maupun konkret atau abstrak.

10. Mengidentifikasi potensi peserta didik;

a. Identifikasi Kemampuan Intelektual atau Kecerdasan Umum

1) Mengamati kemampuan intelektual dan kecerdasan umum peserta didik. Identifikasi hasil pengamatan ini bersifat tentatif, tetapi dapat memberi kontribusi kepada guru untuk melakukan penyesuaian yang memadai terhadap kondisi objektif peserta didik. Menurut Makmun (2009:56) guru dapat menandai peserta didik dengan membandingkannya dengan peserta didik lainnya di kelas.

• Peserta didik yang cenderung selalu lebih cepat dan mudah memahami materi pelajaran dan menyelesaikan tugasnya, dibandingkan dengan teman-temannya, lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan (accelerated students).

• Peserta didik yang cenderung selalu mencapai hasil rata-rata saja, dan hanya dapat menyelesaikan tugasnya sesuai batas waktu yang telah ditetapkan dibandingkan dengan teman-temannya (average students).

• Peserta didik cenderung selalu memiliki kesulitan dalam memahami materi pelajaran, mencapai hasil yang lebih rendah dari teman-temannya, dan hampir selalu tidak dapat menyelesaikan tugasnya sesuai batas waktu yang telah ditetapkan (slow learners).

2) Analisis hasil ulangan atau tes, tugas, wawancara, analisis himpunan data prestasi belajar (nilai rapor) sebelumnya, sikap perilaku, dan hasil psikotes, dsb.

b. Identifikasi Kecerdasan Majemuk dan Bakat

Mengidentifikasi bakat dan kecerdasan majemuk peserta didik dapat menggunakan cara yang sama dengan identifikasi kemampuan intelektual, namun lebih diarahkan kepada bidang studi atau kelompok bidang studi. Bakat khusus di suatu bidang studi biasanya baru nampak jelas pada awal masa remaja.

c. Identifikasi Kreativitas Peserta Didik

Untuk mengidentifikasi kreativitas dapat menggunakan cara (1) pengamatan, yaitu mengamati proses ketika anak sedang membuat karya kreatif; (2) analisis tes, bila peserta didik diberikan kebebasan untuk memberikan beberapa alternatif jawaban; dan (3) analisis karya kreatif dan inovatif.

11. Menganalisis permasalahan berkaitan dengan potensi peserta didik sekolah dasar;

Potensi yang dimiliki peserta didik jika tidak diarahkan dengan baik justru akan merugikan peserta didik. Misalnya siswa yang nakal tetapi memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, harus kita arahkan dengan baik, agar potensi kepemimpinannya berkembang dan sifat nakalnya hilang.

12. Menentukan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik.

Kegiatan pembelajaran untuk memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik dapat dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut.

a. Pahami potensi peserta didik dengan keragamannya.

b. Terimalah peserta didik dengan segala kelebihan dan kelemahannya.

c. Ciptakanlah iklim belajar yang kondusif untuk pertumbuhan dan pengembangan diri peserta didik melalui interaksi yang berkualitas, yaitu yang mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya.

d. Rancanglah pembelajaran yang sesuai dengan keragaman potensi peserta didik sehingga tercapai prestasi terbaiknya sesuai dengan potensinya agar berkembang secara optimal.

e. Bersikaplah demokratis, hangat, bersabahat, menimbulkan rasa senang dan rasa aman, bersikap menuntun, mendorong, mencoba membantu memecahkan masalah, bersikap menghindari kritik yang negatif dan ancaman kepada peserta didik.

f. Bantulah dan bimbinglah peserta didik agar mencapai prestasi sesuai dengan potensinya, sehingga tumbuh kepercayaan dirinya, diantaranya dengan memberikan layanan individual disamping kelompok.

g. Kembangkanlah kreativitas dalam pembelajaran antara lain dengan: 1) memberikan kesempatan berpikir divergen, memberikan beberapa alternatif jawaban dalam memecahkan masalah, memberikan ide-ide; 2) pembelajaran yang merangsang rasa ingin tahu misalnya dengan model pembelajaran diskaveri/inkuiri; 3) mendorong pemanfaatan sarana dan prasarana untuk berekpserimen dan eksplorasi; 4) mendorong dan memberi kesempatan untuk membuat karya kreatif dan inovatif.

Demikianlah Rangkuman Materi 7 Modul Pedagogik P3K Guru Kemdikbud. Semoga bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Rangkuman Materi 7 Modul Pedagogik P3K Guru Kemdikbud"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel